Bertahan Hidup Saat Patah Hati
Aku gak pernah nyangka. Di umur sekarang, masih aja merasakan patah hati. Di antara berbagai tanggungjawab---harus kerja, mandi, makan, tidur---, di sela-sela itu, merasa hati tidak karuan. Lemes gak ada tenaga. Kerja gak semangat. Mandi malas. Makan gak nafsu. Tidur pun gak bisa.
Awalnya, ketika hubungan ini hancur---dan aku memang yang ingin pisah, ngeblok dia di social media dan pindah negara---, aku baik-baik aja. Aku pindah ke Bali. Cari sekolah internasional yang bakal membawaku kerja di luar negeri lagi. Sibuk belajar. Main sama temen-temen. Coba cari bule lewat tinder, dan bumble---semuanya high quality---, tapi memang aku belum siap.
Setahun kemudian, saat aku tau dia udah tinggal bareng sama cewek lagi, di situlah hatiku hancur. Aku merasa bersalah. Aku ingat kebaikan-kebaikan dia. Aku ingin dia mutusin cewek itu.
Lalu, tibalah saatnya aku mengalami proses patah hati.
Mulailah aku googling tentang patah hati itu apa. Apa saja tahapan yang kita lalui saat patah hati. Bagaimana menangani motivasi hidup yang gak ada. Aku menangis. Menangis parah. Gak makan selama 2 hari. Kerja pun gak bener.
Di sinilah proses healing dimulai.
Pikirku, "aku gak mau lari dari rasa sakit ini. Aku harus mau melewatinya. Aku gak boleh mengalihkan dengan kegiatan lain. Jika ingin nangis. Nangislah. Jika ingin marah. Marahlah. Jika ingin tidak ngapa-ngapain, ya udah gak usah ngapa-ngapain."
Satu hal yang aku lawan adalah kegiatan rebahan. Karena ini akan memicu penyakit lamaku---pengen bunuh diri---. Jadi aku paksa buka laptop. Aku ingat apa saja yang harus kusyukuri dari hidup ini. Apa yang bisa kubanggakan dari diri ini. Sesimpel, aku tetap bertahan jadi jomblo demi menghargai diriku sendiri. Karena aku merasa menyakiti diri sendiri jika aku asal-asalan cari cowok sebagai pelampiasan. Aku ingat bahwa di fase griefing/ berduka ini, nyaris seperti depresi. Kita sering anggap diri kita gagal. Kita lupa bahwa ada hal-hal yang bisa kita banggakan sebetulnya.
Aku paksa buat duduk di lobby. Aku paksa aku mengobrol dengan temen-temen.
Dada sesak. Aku tidak bisa berfungsi sebagaimana biasanya. Tapi, aku tau 1 fakta, bahwa aku harus bisa menolong diriku sendiri. Tidak ada yang bisa kita harapkan selain diri ini. Hanya aku dan Tuhan. Jadi aku mulai membangun kebiasaan baik. Aku tidak memaksa diriku untuk melakukan sesuatu yang aku belum sanggup melakukan. Seperti target-target yang terlalu tinggi. Udah bisa bangun pagi, lalu memaksa diri bikin kopi meski merasa hampa aja udah bagus.
Jadi inilah yang kulakukan:
1. Bangun pagi, jam 3 atau jam 4. Membuat kopi. Duduk bermeditasi. Yang kupilih adalah Ho'oponopono. Meditasi dari Hawaii yang menchanting 4 kata: Sorry. Please forgive me. Thank you. I love you. Kulanjutkan dengan meditasi inner child, karena aku memang selalu menarik pasangan yang salah. Selalu tertarik dengan bad boys--orang kekanakan yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.
2. Menulis gratitude jurnal
3. Menulis cognitive behavior distortion. Metode CBT yang dikenalkan oleh David Burns
4. Mandi.
5. Kalo aku lapar aku makan. Jika tidak, aku tidak memaksa diriku untuk makan.
6. Kerja. Sambil kerja biasanya aku meditasi ho'oponopono.
7. Membiarkan diriku duduk di lobby kosan. Dikelilingi teman-teman.
8. Jika merasa sangat sedih, aku ke pantai, aku meditasi ho'ponopono
9. Berdoa. Berserah diri kepada Tuhanku, maha segala-galanya.
10. Melakukan no contact.
Aku tidak olahraga. Aku jarang masak. Aku tidak menulis novel lagi. Aku tidak menulis blog lagi. Aku hanya melakukan hal-hal standar---kayak gitu aja udah ngabisin energi banyak---karena aku sedang berduka. Aku biarkan diriku tidak produktif, karena aku paham, aku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Aku yakin badai pasti akan berlalu. Fokusku sekarang adalah sembuh seperti dulu lagi. Tapi aku tidak memaksakan diri. Aku mengasihani diri ini. Aku sayang diri ini.


Comments
Post a Comment